PRABA INSIGHT – SURABAYA – Ada kalanya satu nama jalan terdengar biasa saja sampai kemudian ia muncul di konferensi pers BNN dan dibandingkan dengan Medellin, kota yang pernah jadi panggung besar Pablo Escobar. Itulah yang kini menimpa Jalan Kunti, Sidotopo, Semampir, Surabaya.
Kepala BNNP Jawa Timur, Brigjen Pol Budi Mulyanto, memberi label yang bikin bulu kuduk merinding:
“Medellin-nya Jawa Timur.”
Bukan karena arsitekturnya eksotis, tentu saja. Tapi karena aparat yang mencoba masuk ke sana seolah bertabrakan dengan dinding tebal dinding sosial, dinding perlawanan, dinding kecurigaan.
Setiap operasi bukan hanya berhadapan dengan bandar, tapi juga warga yang diduga melindungi aktivitas gelap tersebut. Ditambah lagi ada sistem informasi cepat ala “cepa-cepa”, yang bikin kabar razia berpindah lebih lincah daripada notifikasi grup WhatsApp RT. Begitu petugas datang, barang bukti sudah keburu menghilang.
Brigjen Budi menyebut situasinya kompleks dan jauh dari cerita fiksi.
Namun bagian paling menyesakkan dada bukan pada cerita jaringan, melainkan pada mereka yang jadi korban paling muda.
Dalam operasi bulan lalu, BNNP menemukan 15 anak-anak tertangkap sedang mengonsumsi narkoba. Angka yang terasa seperti tamparan keras sekaligus penanda bahwa masalah ini tak lagi soal pelaku dan bandar, melainkan regenerasi yang keliru.
Di titik ini, BNNP Jatim tampaknya sadar bahwa pendekatan keras saja tidak cukup. Yang dihadapi bukan sekadar satu kasus, melainkan ekosistem sosial.
Maka strategi diubah:
Mereka jemput bola dengan layanan Rehabilitasi Keliling, sekaligus membuka pelatihan vokasi agar warga punya pilihan pekerjaan selain terjebak dalam lingkaran bisnis narkotika.
Karena ketika satu kampung sudah terlilit sistem yang menyerupai kartel, persoalannya bukan cuma “siapa ditangkap”, tapi siapa yang masih bisa diselamatkan.
Jalan Kunti kini bukan sekadar nama lokasi. Ia adalah ujian terberat bagi penegak hukum, sekaligus cermin getir bahwa perang melawan narkoba tidak berhenti di pintu rumah bandar tetapi juga di masa depan anak-anak yang tumbuh di dalamnya.
Editor : Ivan







