Menu

Mode Gelap
Parliamentary Threshold 7 Persen, OSSO Sebut Demokrasi Bisa Dikuasai Partai Besar Saling Lapor di Jatiasih: Babak Baru Kasus Dugaan Pengeroyokan dan Lemparan Pot Resmi Dimutasi, Kombes Firman Kini Jabat Dirlantas Polda Metro Jaya Hari Purwanto Soroti Dugaan Kriminalisasi Dirjen Bea Cukai, Singgung Dampaknya ke Citra Presiden Prabowo Polda Papua Selatan dan Papua Pegunungan Dinilai Mendesak, Sandri Rumanama: Rakyat Butuh Kepastian Keamanan Ketika Pot Bunga Lebih Cepat Bicara daripada Mulut Tetangga di Jatirasa

Regional

Jalan Kunti dan Jaringan Narkoba Surabaya: Laporan dari Kampung yang Melawan

badge-check


					Jalan Kunti di Sidotopo, Surabaya, mendapat julukan “Medellin Jawa Timur” oleh BNNP Jatim. Kawasan ini disebut menghadirkan perlawanan warga, sistem informasi razia yang rapi, hingga temuan anak-anak terlibat penyalahgunaan narkoba. BNN kini mengubah pendekatan dengan rehabilitasi keliling dan pelatihan vokasi.(Istimewa) Perbesar

Jalan Kunti di Sidotopo, Surabaya, mendapat julukan “Medellin Jawa Timur” oleh BNNP Jatim. Kawasan ini disebut menghadirkan perlawanan warga, sistem informasi razia yang rapi, hingga temuan anak-anak terlibat penyalahgunaan narkoba. BNN kini mengubah pendekatan dengan rehabilitasi keliling dan pelatihan vokasi.(Istimewa)

PRABA INSIGHT – SURABAYA – Ada kalanya satu nama jalan terdengar biasa saja  sampai kemudian ia muncul di konferensi pers BNN dan dibandingkan dengan Medellin, kota yang pernah jadi panggung besar Pablo Escobar. Itulah yang kini menimpa Jalan Kunti, Sidotopo, Semampir, Surabaya.

Kepala BNNP Jawa Timur, Brigjen Pol Budi Mulyanto, memberi label yang bikin bulu kuduk merinding:

“Medellin-nya Jawa Timur.”

Bukan karena arsitekturnya eksotis, tentu saja. Tapi karena aparat yang mencoba masuk ke sana seolah bertabrakan dengan dinding tebal  dinding sosial, dinding perlawanan, dinding kecurigaan.

Setiap operasi bukan hanya berhadapan dengan bandar, tapi juga warga yang diduga melindungi aktivitas gelap tersebut. Ditambah lagi ada sistem informasi cepat ala “cepa-cepa”, yang bikin kabar razia berpindah lebih lincah daripada notifikasi grup WhatsApp RT. Begitu petugas datang, barang bukti sudah keburu menghilang.

Brigjen Budi menyebut situasinya kompleks dan jauh dari cerita fiksi.

Namun bagian paling menyesakkan dada bukan pada cerita jaringan, melainkan pada mereka yang jadi korban paling muda.

Dalam operasi bulan lalu, BNNP menemukan 15 anak-anak tertangkap sedang mengonsumsi narkoba. Angka yang terasa seperti tamparan keras  sekaligus penanda bahwa masalah ini tak lagi soal pelaku dan bandar, melainkan regenerasi yang keliru.

Di titik ini, BNNP Jatim tampaknya sadar bahwa pendekatan keras saja tidak cukup. Yang dihadapi bukan sekadar satu kasus, melainkan ekosistem sosial.

Maka strategi diubah:

Mereka jemput bola dengan layanan Rehabilitasi Keliling, sekaligus membuka pelatihan vokasi agar warga punya pilihan pekerjaan selain terjebak dalam lingkaran bisnis narkotika.

Karena ketika satu kampung sudah terlilit sistem yang menyerupai kartel, persoalannya bukan cuma “siapa ditangkap”, tapi siapa yang masih bisa diselamatkan.

Jalan Kunti kini bukan sekadar nama lokasi. Ia adalah ujian terberat bagi penegak hukum, sekaligus cermin getir bahwa perang melawan narkoba tidak berhenti di pintu rumah bandar tetapi juga di masa depan anak-anak yang tumbuh di dalamnya.

Editor : Ivan 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Saling Lapor di Jatiasih: Babak Baru Kasus Dugaan Pengeroyokan dan Lemparan Pot

11 Mei 2026 - 18:57

Ketika Pot Bunga Lebih Cepat Bicara daripada Mulut Tetangga di Jatirasa

9 Mei 2026 - 19:56

Terjerat Kasus Penggelapan, Perpanjangan KITAS Bos WNA di Bekasi Dipertanyakan

8 Mei 2026 - 14:27

Bekasi Kota Beracun Nomor 2 Dunia, Bantargebang Hasilkan Gas Metana 6,3 Ton per Jam

6 Mei 2026 - 22:50

Tersangka Kasus Santriwati di Pati Diduga Kabur, Polisi Siapkan Jemput Paksa

6 Mei 2026 - 19:53

Trending di Crime