Menu

Mode Gelap
Aktivis 98 Agung Dekil: Komitmen Prabowo Berantas Korupsi Wujud Nyata Amanat Reformasi 1998 Sahabat MUI Kota Bekasi Gelar Raker I, Desak Pengawasan LGBT dan Narkoba Tak Cukup Mundur? Bandot DM Sebut Febrie Masih Sah Jadi Jampidsus karena Keppres Belum Dicabut Kronologi Lengkap Pembunuhan Driver Ojol di Tangerang: Pelaku Batalkan Bunuh Diri lalu Begal karena Tertekan Biaya Nikah Buntut Sidang Tipikor, Kadis SDABMBK Kabupaten Bekasi Dilaporkan ke KPK Kuasa Hukum Nancy Soroti Kesaksian Dwi Febri di Sidang Sengketa Aset PN Jaksel, Siap Tempuh Jalur Hukum jika Terbukti Palsu

Regional

PB XIII Mangkat, dan Kita Kembali Belajar Arti Kata ‘Luhur’ dari Keraton

badge-check

Raja Surakarta PB XIII Hangabehi wafat di usia 77 tahun. Sosok penjaga tradisi Jawa ini meninggalkan duka mendalam bagi Keraton dan masyarakat Solo yang masih setia menjaga warisan leluhurnya.(Foto:Ist) Perbesar

Raja Surakarta PB XIII Hangabehi wafat di usia 77 tahun. Sosok penjaga tradisi Jawa ini meninggalkan duka mendalam bagi Keraton dan masyarakat Solo yang masih setia menjaga warisan leluhurnya.(Foto:Ist)

PRABA INSIGHT – Solo – Kabar duka datang dari jantung budaya Jawa. Minggu pagi (2/11/2025), suasana di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat berubah sendu. Kanjeng Sinuhun Paku Buwono (PB) XIII Hangabehi, sang raja yang selama ini menjadi simbol kebesaran dan sekaligus kesabaran Keraton, wafat di usia 77 tahun.

Sinuhun PB XIII mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Indriati Solo Baru, Sukoharjo, tepat pukul 07.29 WIB. “Beliau sudah lama sakit, komplikasi dari gula darah dan penyakit lainnya,” tutur Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Eddy Wirabhumi, kerabat dekat Keraton, dengan nada lirih.

Kalau bicara tentang PB XIII, orang Solo tahu betul: beliau bukan sekadar raja di balik tembok tebal Keraton. Ia adalah simbol keuletan budaya Jawa yang mencoba bertahan di tengah gempuran zaman. Di masa di mana tradisi sering dipandang kuno, PB XIII justru menjadikannya napas kehidupan.

Beliau adalah tipe pemimpin yang tidak banyak bicara, tapi setiap geraknya punya makna. Dari ritual adat hingga urusan budaya, PB XIII tetap menjaga tatanan keraton yang bagi sebagian orang mungkin sudah tak lagi “trendi”, tapi bagi masyarakat Solo tetap jadi sumber identitas dan kebanggaan.

Kini, setelah wafatnya PB XIII, Keraton Surakarta kembali memasuki babak baru. Duka, tentu saja. Tapi juga harapan bahwa warisan leluhur yang dijaga dengan sepenuh hati itu tak ikut terkubur bersama Sang Raja.

Selamat jalan, Sinuhun. Semoga damai di keabadian, bersama doa ribuan rakyat yang masih setia menyebut nama panjenengan dengan hormat. (Van)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Buntut Sidang Tipikor, Kadis SDABMBK Kabupaten Bekasi Dilaporkan ke KPK

14 Juli 2026 - 19:23

Masalah Data Adminduk Bekasi Utara Dibahas, Rizki Topananda Dorong Pemutakhiran

11 Juli 2026 - 15:14

Benteng Keluarga dan Raperda LGBTQ Kota Bekasi ala Chairun Nisa

11 Juli 2026 - 12:09

Kabar Baik: Lulusan BLK Indramayu Siap Gaspol Garap Daihatsu Langsung di Jepang!

2 Juli 2026 - 19:16

LSM SOMASI Puji Sinergi Polres Metro Bekasi Kota di HUT Bhayangkara ke-80

2 Juli 2026 - 17:19

Trending di News