Menu

Mode Gelap
Kapolda Sulsel Lantik Kombes Feby Dapot Hutagalung sebagai Dirreskrimum Baru Noel Protes Tuntutan Kasus Korupsi Kemnaker: “Mending Korupsi Sebanyak-banyaknya, Cuma Beda Setahun” Watch Club Resmi Hadir di 23 Semarang, Pasar Jam Tang Premium Jawa Tengah Kian Ramai Warga Antre Tes Kesehatan di Bekasi, Heritage Medical Bawa Kabar Melegakan! BRIN Perkuat Ketahanan Nasional Melalui Pengembangan Infrastruktur Teknologi Satelit di Parepare Dukung Ketahanan Pangan, Haji Isam Pantau Langsung Pembangunan Infrastruktur Jalan di Merauke

Regional

PB XIII Mangkat, dan Kita Kembali Belajar Arti Kata ‘Luhur’ dari Keraton

badge-check


					Raja Surakarta PB XIII Hangabehi wafat di usia 77 tahun. Sosok penjaga tradisi Jawa ini meninggalkan duka mendalam bagi Keraton dan masyarakat Solo yang masih setia menjaga warisan leluhurnya.(Foto:Ist) Perbesar

Raja Surakarta PB XIII Hangabehi wafat di usia 77 tahun. Sosok penjaga tradisi Jawa ini meninggalkan duka mendalam bagi Keraton dan masyarakat Solo yang masih setia menjaga warisan leluhurnya.(Foto:Ist)

PRABA INSIGHT – Solo – Kabar duka datang dari jantung budaya Jawa. Minggu pagi (2/11/2025), suasana di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat berubah sendu. Kanjeng Sinuhun Paku Buwono (PB) XIII Hangabehi, sang raja yang selama ini menjadi simbol kebesaran dan sekaligus kesabaran Keraton, wafat di usia 77 tahun.

Sinuhun PB XIII mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Indriati Solo Baru, Sukoharjo, tepat pukul 07.29 WIB. “Beliau sudah lama sakit, komplikasi dari gula darah dan penyakit lainnya,” tutur Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Eddy Wirabhumi, kerabat dekat Keraton, dengan nada lirih.

Kalau bicara tentang PB XIII, orang Solo tahu betul: beliau bukan sekadar raja di balik tembok tebal Keraton. Ia adalah simbol keuletan budaya Jawa yang mencoba bertahan di tengah gempuran zaman. Di masa di mana tradisi sering dipandang kuno, PB XIII justru menjadikannya napas kehidupan.

Beliau adalah tipe pemimpin yang tidak banyak bicara, tapi setiap geraknya punya makna. Dari ritual adat hingga urusan budaya, PB XIII tetap menjaga tatanan keraton yang bagi sebagian orang mungkin sudah tak lagi “trendi”, tapi bagi masyarakat Solo tetap jadi sumber identitas dan kebanggaan.

Kini, setelah wafatnya PB XIII, Keraton Surakarta kembali memasuki babak baru. Duka, tentu saja. Tapi juga harapan bahwa warisan leluhur yang dijaga dengan sepenuh hati itu tak ikut terkubur bersama Sang Raja.

Selamat jalan, Sinuhun. Semoga damai di keabadian, bersama doa ribuan rakyat yang masih setia menyebut nama panjenengan dengan hormat. (Van)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Warga Antre Tes Kesehatan di Bekasi, Heritage Medical Bawa Kabar Melegakan!

24 Mei 2026 - 17:39

Eks Polwan Viral Lagi: Tetangga di Sigi Diduga Dipukul Pakai Balok Kayu, CCTV Bikin Warga Geger

22 Mei 2026 - 20:16

Tragedi Horor KRL Vs Argo Bromo di Bekasi Timur, DPR RI Desak Duit APBN Turun

22 Mei 2026 - 20:03

Pengantin Wanita di Pati Hilang Beberapa Jam Sebelum Akad, Diduga Kabur dengan Pria Lain

22 Mei 2026 - 18:59

Bantargebang Juara 2 Dunia Pasok Gas Metana, KPNas Minta Amputasi Birokrasi

21 Mei 2026 - 23:29

Trending di News