Menu

Mode Gelap
Pegadaian Kantor Wilayah IX Jakarta 2 Luncurkan MPL 2026, Bantu Warga dan Dorong UMKM Bocoran Rahasia Mossad: Hacker Pro-Palestina Handala Serang Sistem dan Data Laura Gelinsky Siskaeee Sindir Polisi Lamban Tangkap Pelaku Penyiraman Air Keras ke Aktivis Andrie Yunus: “Giliran Bokep Bisa Cepat” Jelang Lebaran, Tarif Tol Batang-Semarang Resmi Naik 29 Persen: Mudik Makin Mahal Prabowo Digugat ke PTUN Gara-Gara Teken Perjanjian Dagang RI-AS Tanpa DPR, Publik: Ini Negara atau Startup? Iran Kirim Sinyal Keras ke Ukraina: Jika Bantu Israel Pakai Drone, Bisa Dianggap “Target Sah”

Regional

PB XIII Mangkat, dan Kita Kembali Belajar Arti Kata ‘Luhur’ dari Keraton

badge-check


					Raja Surakarta PB XIII Hangabehi wafat di usia 77 tahun. Sosok penjaga tradisi Jawa ini meninggalkan duka mendalam bagi Keraton dan masyarakat Solo yang masih setia menjaga warisan leluhurnya.(Foto:Ist) Perbesar

Raja Surakarta PB XIII Hangabehi wafat di usia 77 tahun. Sosok penjaga tradisi Jawa ini meninggalkan duka mendalam bagi Keraton dan masyarakat Solo yang masih setia menjaga warisan leluhurnya.(Foto:Ist)

PRABA INSIGHT – Solo – Kabar duka datang dari jantung budaya Jawa. Minggu pagi (2/11/2025), suasana di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat berubah sendu. Kanjeng Sinuhun Paku Buwono (PB) XIII Hangabehi, sang raja yang selama ini menjadi simbol kebesaran dan sekaligus kesabaran Keraton, wafat di usia 77 tahun.

Sinuhun PB XIII mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Indriati Solo Baru, Sukoharjo, tepat pukul 07.29 WIB. “Beliau sudah lama sakit, komplikasi dari gula darah dan penyakit lainnya,” tutur Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Eddy Wirabhumi, kerabat dekat Keraton, dengan nada lirih.

Kalau bicara tentang PB XIII, orang Solo tahu betul: beliau bukan sekadar raja di balik tembok tebal Keraton. Ia adalah simbol keuletan budaya Jawa yang mencoba bertahan di tengah gempuran zaman. Di masa di mana tradisi sering dipandang kuno, PB XIII justru menjadikannya napas kehidupan.

Beliau adalah tipe pemimpin yang tidak banyak bicara, tapi setiap geraknya punya makna. Dari ritual adat hingga urusan budaya, PB XIII tetap menjaga tatanan keraton yang bagi sebagian orang mungkin sudah tak lagi “trendi”, tapi bagi masyarakat Solo tetap jadi sumber identitas dan kebanggaan.

Kini, setelah wafatnya PB XIII, Keraton Surakarta kembali memasuki babak baru. Duka, tentu saja. Tapi juga harapan bahwa warisan leluhur yang dijaga dengan sepenuh hati itu tak ikut terkubur bersama Sang Raja.

Selamat jalan, Sinuhun. Semoga damai di keabadian, bersama doa ribuan rakyat yang masih setia menyebut nama panjenengan dengan hormat. (Van)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ditegur Saat Apel Pagi, Karyawan di Tojo Una-Una Tewas Diduga Diserang Rekan Kerja

10 Maret 2026 - 15:02 WIB

Heboh! Ledakan di Kauman Ponorogo Terdengar hingga Kilometeran, Satu Rumah Rusak Parah

3 Maret 2026 - 11:48 WIB

Terungkap! Pemprov Kaltim Anggarkan Puluhan Juta untuk Naskah Pidato Gubernur

1 Maret 2026 - 18:18 WIB

Viral! Istri Prajurit di Cenderawasih Diduga Terlibat Selingkuh dengan 13 Anggota TNI AD

27 Februari 2026 - 12:23 WIB

Duar Maut di Situbondo! Ledakan Petasan Hancurkan Rumah, 2 Orang Tewas Termasuk Remaja 15 Tahun

26 Februari 2026 - 14:46 WIB

Trending di News