Menu

Mode Gelap
BHR Ojol Naik 100%, Aplikator Rogoh Rp220 Miliar: Lebaran Tahun Ini Lebih “Nendang” buat Mitra? Di Balik Framing Negatif Polri, Sandri Rumanama Buka Suara Heboh! Ledakan di Kauman Ponorogo Terdengar hingga Kilometeran, Satu Rumah Rusak Parah Rudal Balistik Iran Hantam Kantor Perdana Menteri Israel, ini kata PM Netanyahu Blok M Mendadak Mistis: Luna Maya Perkenalkan Film “Santet Dosa di Atas Dosa” In Memoriam Try Sutrisno, Mantan Panglima ABRI dan Wapres RI ke-6

News

Tamat Sudah Drama PWI: Hendry vs Zulmansyah Sepakat Damai, Kongres Persatuan Jadi Solusi

badge-check


					Anggota Dewan Pers Dahlan Dahi memediasi kesepakatan itu. Hendry dan Zulmansyah menuangkan poin-poin kesepakatan dalam dokumen bermaterai yang diberi nama 'Kesepakatan Jakarta'.(Foto: Istimewa) Perbesar

Anggota Dewan Pers Dahlan Dahi memediasi kesepakatan itu. Hendry dan Zulmansyah menuangkan poin-poin kesepakatan dalam dokumen bermaterai yang diberi nama 'Kesepakatan Jakarta'.(Foto: Istimewa)

PRABA INSIGHT – Setelah hampir setahun penuh menjadi “panggung sinetron politik” internal, akhirnya Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) sepakat berdamai.

Drama tarik-ulur antara dua kubu kepemimpinan yang sempat bikin publik bingung soal siapa sebenarnya Ketua Umum PWI yang sah, kini menuju akhir yang (semoga) bahagia.

Kuncinya? Kongres persatuan yang akan digelar Agustus 2025 mendatang.

Kabar damai ini bukan datang tiba-tiba seperti pesan WhatsApp dari mantan. Ia lahir dari proses panjang dan melelahkan.

Jumat malam, 16 Mei 2025, Jakarta jadi saksi pertemuan dua tokoh sentral kisah ini: Hendry Ch Bangun, Ketua Umum hasil Kongres Bandung 2023, dan Zulmansyah Sekedang, Ketua Umum hasil Kongres Luar Biasa (KLB) Jakarta 2024.

Duel Dua Kongres: Bandung vs Jakarta

Sedikit flashback: Hendry terpilih di Kongres Bandung pada 27 September 2023. Namun, tak lama berselang, gelombang konflik internal menerpa.

Pada 18 Agustus 2024, sekelompok anggota menggelar KLB di Jakarta dan menetapkan Zulmansyah sebagai ketua versi mereka.

Akibatnya? Dualisme kepemimpinan, program kerja macet, dan organisasi terbesar wartawan di Indonesia ini seperti kapal tanpa nakhoda yang jelas.

Berbagai upaya mediasi sempat dilakukan, tapi jalan damai baru benar-benar terbuka saat Dewan Pers turun tangan.

Dahlan Dahi, anggota Dewan Pers, didapuk menjadi mediator. Dialah tokoh yang berjasa menyatukan dua ujung yang tampaknya tak akan pernah ketemu.

Kesepakatan Jakarta: Bukan Sekadar Dokumen

Pertemuan berlangsung selama empat jam. Negosiasi alot, debat panas, tapi sesekali diselingi tawa.

Tanda bahwa meski beda pandangan, mereka tetap punya satu hati untuk PWI.

‎”Bang Hendry dan Bang Zul tegas dan konsisten dengan prinsip masing-masing. Tapi kebesaran jiwa dan rasa tanggung jawab yang tinggi untuk pers Indonesia, untuk PWI, menjadi titik temu. Keduanya juga bersahabat. Negosiasi dimulai dari sana,”  kata Dahlan, si penengah yang sabarnya luar biasa.

Hasilnya, lahirlah Kesepakatan Jakarta. Satu lembar dokumen yang ditandatangani jelang tengah malam, lengkap dengan materai, tiga rangkap, dan tentu saja jabatan tangan simbolik.

Isinya? Kesepakatan untuk menggelar satu kongres persatuan demi menyatukan kembali PWI.

Sederhana di atas kertas, tapi punya makna besar untuk dunia pers nasional.

Harapan dari Dua Kepala

Hendry menegaskan bahwa ini saatnya menatap ke depan.

“Sudah cukup kita terjebak di drama internal. PWI harus kembali bergerak. Program peningkatan kapasitas wartawan harus lanjut,” ujarnya.

Zulmansyah pun senada. “Ini sejarah buat PWI. Persatuan itu bukan cuma nama di akta, tapi harus nyata. Semoga pusat dan daerah bisa kembali guyub.”

Kalau ini film, maka Jumat malam itu adalah babak akhir dari sekuel konflik yang melelahkan, sekaligus pembuka untuk lembaran baru.

Dengan lebih dari 30 ribu anggota di 39 provinsi, PWI memang tak bisa terus dibiarkan berjalan dengan dua kepala.

Kongres persatuan nanti bukan hanya ritual organisasi, tapi momentum menyatukan kembali suara wartawan Indonesia.

Dan yang paling penting, semoga kesepakatan ini tak berakhir hanya sebagai dokumen di rak arsip.

Karena bangsa yang besar, butuh pers yang kuat. Dan pers yang kuat, harus dimulai dari rumah yang tidak retak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

BHR Ojol Naik 100%, Aplikator Rogoh Rp220 Miliar: Lebaran Tahun Ini Lebih “Nendang” buat Mitra?

3 Maret 2026 - 14:12 WIB

Di Balik Framing Negatif Polri, Sandri Rumanama Buka Suara

3 Maret 2026 - 13:08 WIB

In Memoriam Try Sutrisno, Mantan Panglima ABRI dan Wapres RI ke-6

2 Maret 2026 - 13:36 WIB

Video Balap Liar di Lampu Merah Berujung Kecelakaan, Pengendara Tabrakan

1 Maret 2026 - 18:50 WIB

Ini Penjelasan Status AKBP Didik: PTDH, Non-Job di Yanma, tapi Gaji Pokok Masih Dibayar

1 Maret 2026 - 18:43 WIB

Trending di News