Menu

Mode Gelap
Jokowi Turun Gunung demi PSI. Lampung Jadi Etape Pertama, Mesin Politik Sedang Dipanaskan Kepercayaan Publik ke Polri Naik, Sandri Rumanama Bilang Perubahan Itu Nyata 82,4 Persen Publik Masih Percaya Polri. Barangkali, Ini Memang Bukan Cuma Soal Angka Telepon dari Gerbong Wanita Bekasi Timur Dari Gedung KPK ke Kementerian Koperasi, Mahasiswa Memburu Jawaban atas Anggaran Rp59 Triliun Ramai Program MBG, Pelajar Sumsel Justru Soroti Hal yang Jarang Dibahas

Politik

Pidato Prabowo, Kata Haidar Alwi, Bukan Basa-Basi: Ini Tanda Negara Mau Serius dengan Pancasila

badge-check


					R. Haidar Alwi, pendiri Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute. (Foto:Praba/istimewa) Perbesar

R. Haidar Alwi, pendiri Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute. (Foto:Praba/istimewa)

PRABA INSIGHT – Hari Lahir Pancasila tahun ini terasa beda. Bukan karena tanggalnya yang jatuh di awal Juni seperti biasa, tapi karena pidato Presiden terpilih Prabowo Subianto yang bikin banyak telinga merapat dan mata melek.

Salah satu yang ikut mengamati dengan saksama adalah R. Haidar Alwi, pendiri Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute.

Menurut Haidar, pidato Prabowo bukan cuma pengulangan teks seremonial tahunan yang bikin ngantuk. “Ini titik balik,” katanya mantap.

Bagi Haidar, pidato itu seperti sirene keras, jujur, dan mengingatkan semua orang bahwa negara ini butuh arah, bukan basa-basi.

Apalagi ketika menyentuh soal kebocoran anggaran dan elit-elit yang doyan main belakang. “Jangan sampai kita mengkhianati rakyat sendiri,” ucap Prabowo.

Haidar menyebut itu sebagai “teguran langit” buat yang selama ini nyaman di zona gelap kekuasaan.

Sebagai Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB, Haidar menilai Prabowo tidak sedang playing safe. Ia berani menyinggung aparat dan pejabat, sesuatu yang jarang terdengar dari mimbar kekuasaan.

Menurutnya, keberanian semacam ini perlu diapresiasi, bukan malah dicibir. “Ini koreksi ke dalam, bukan sekadar nyalahin orang lain,” ujar Haidar.

Pidato itu juga tidak menyulut api konflik. Tidak ada sindiran ke golongan agama, ras, atau etnis tertentu. Sebaliknya, Prabowo dengan tegas menyatakan bahwa Pancasila adalah milik semua orang.

Haidar menilai kalimat ini bukan cuma pemanis, tapi pengingat bahwa narasi kebangsaan jangan dikomodifikasi jadi bahan jualan politik.

Toleransi, menurut Haidar, adalah pondasi kalau Indonesia ingin tetap utuh di tengah keberagaman yang kadang rawan disulut demi elektabilitas.

Sebagai penggagas Gerakan Nasional Rakyat Bantu Rakyat, Haidar langsung nyambung dengan semangat gotong royong yang diselipkan Prabowo.

Negara, kata Presiden, tidak boleh dikuasai segelintir orang. Haidar sepakat. “Rakyat bantu rakyat itu bukan sekadar slogan. Itu gerakan. Itu cara bangsa ini tetap berdiri ketika negara kadang hilang arah,” ucapnya.

Pidato Prabowo juga menyinggung hal yang jarang diungkap: soal dana asing yang bisa menyusup lewat LSM.

Menurut Haidar, ini bukan teori konspirasi, tapi sinyal penting bahwa kita perlu punya narasi tandingan, bukan cuma menunggu sampai negara ini tercerai berai dari dalam.

“Banyak negara besar runtuh bukan karena perang, tapi karena pengaruh,” tegasnya.

Yang membuat Haidar makin yakin, Prabowo tidak tampil sebagai politisi yang lagi kampanye. Tidak ada kalimat manis-manis yang terlalu idealis.

Justru gaya lugas dan pengakuan bahwa sistem masih bocor di sana-sini, menurut Haidar, adalah titik terang.

“Kejujuran itu awal dari perbaikan,” katanya. Dan kejujuran, katanya lagi, adalah barang mahal di republik yang terlalu sering memoles luka dengan kosmetik janji-janji.

Ia pun mengingatkan publik agar berhenti jadi komentator profesional di media sosial.

“Kalau cuma nyinyir tapi nggak mau turun tangan, ya negara ini ya akan gini-gini aja,” sentil Haidar. Harapan, menurutnya, lebih penting dari sinisme.

Buat Haidar, isi pidato Prabowo harus diturunkan dalam aksi nyata: pemerataan pendidikan, layanan kesehatan yang adil, serta keberpihakan nyata ke rakyat kecil.

Gerakan seperti Rakyat Bantu Rakyat bukan untuk menyaingi negara, tapi membantu negara hadir di tempat yang sering ia lupakan.

Haidar Alwi menutup komentarnya dengan nada optimis. “Kalau pidato ini bukan sekadar lips service, kalau benar dijalankan, maka kita akan masuk babak baru. Bukan hanya Indonesia yang lebih kuat, tapi juga lebih adil dan bermartabat,” tutupnya.

 

 

Penulis: Andi Ramadhan| Editor: Ivan

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Jokowi Turun Gunung demi PSI. Lampung Jadi Etape Pertama, Mesin Politik Sedang Dipanaskan

26 Juni 2026 - 18:35

Saat Posisi PDIP Dipertanyakan, AHY Ingatkan Oposisi Bukan Tempat Menebar Permusuhan

23 Juni 2026 - 10:40

Yerikho Menurung: Polarisasi Politik Mengancam, Persatuan Nasional Tak Bisa Ditawar

22 Juni 2026 - 20:59

Naik Lebih dari 1.000 Persen, Pertumbuhan Harta Zita Anjani Jadi Sorotan Publik

19 Juni 2026 - 21:06

RUU Polri Dikritik Tertutup dan Tergesa, Sandri Rumanama: “Mengada-ngada Saja Itu”

19 Juni 2026 - 19:48

Trending di News