PRABA INSIGHT – SUMATERA – Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda tiga provinsi di Sumatera sejak akhir pekan lalu mencatatkan jumlah korban yang terus meningkat. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan, Abdul Muhari, merilis data terbaru hingga Minggu sore, 30 November 2025, yang menunjukkan skala bencana ini telah mencapai tingkat mematikan.
Menurut BNPB, sebanyak 441 orang meninggal dunia di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Bencana hidrometeorologi ini juga berdampak pada 46 kabupaten dan kota, menjadikannya salah satu kejadian dengan fatalitas tertinggi sepanjang tahun.
Sumatera Utara Jadi Episentrum Korban
Sumatera Utara mencatat jumlah kematian tertinggi dengan 216 korban jiwa. Sumatera Barat menyusul dengan 129 korban, sementara Aceh melaporkan 96 korban jiwa. BNPB menyatakan bahwa angka tersebut dimungkinkan masih bergerak mengingat proses pencarian masih berlangsung.
Tim SAR Gabungan yang terdiri dari TNI, Polri, Basarnas, dan relawan kini berfokus pada pencarian 406 orang yang masih hilang. Upaya ini terkendala akses yang terputus akibat kerusakan infrastruktur di sejumlah wilayah terdampak.
Lebih dari Satu Juta Warga Terdampak
Dampak sosial bencana ini meluas. BNPB melaporkan 1,1 juta jiwa terdampak langsung, sementara 209.700 warga terpaksa mengungsi ke berbagai titik penampungan. Selain itu, 646 orang mengalami luka-luka dan sedang menjalani perawatan medis.
Abdul Muhari menjelaskan bahwa kondisi pengungsian membutuhkan perhatian khusus mengingat jumlah penyintas yang besar serta terbatasnya akses distribusi bantuan.
Infrastruktur Rusak Parah
Kerusakan infrastruktur yang terjadi digambarkan “luas dan kritis”. BNPB mencatat:
- 133 jembatan rusak atau putus, menghambat mobilitas bantuan dan evakuasi
- 43 fasilitas pendidikan mengalami kerusakan
- Rumah warga terdampak:
- 827 unit rusak berat
- 694 unit rusak sedang
- 1.300 unit rusak ringan
Kerusakan tersebut mengisolasi beberapa wilayah, sehingga distribusi logistik berpotensi bergantung pada jalur udara.
Fokus Pemerintah: Akses dan Logistik
Pemerintah pusat kini memprioritaskan pembukaan akses jalan menuju daerah yang terisolasi. Jalur udara menjadi salah satu opsi yang tengah dimaksimalkan. Selain itu, percepatan distribusi logistik dasar bagi ratusan ribu pengungsi menjadi prioritas utama.
Aparat dan relawan yang berada di lapangan juga diminta memperkuat koordinasi mengingat kondisi cuaca yang masih fluktuatif dan potensi bencana susulan.
Penulis : Ristanto | Editor : Ivan











