Menu

Mode Gelap
KAUP Gelar PentaSeni 2026 di Kampus Pancasila, Jadi Momen Perpisahan Kepengurusan Dasco Rakernas Perdana Haidar Alwi Institute di Tengah Dinamika Politik Nasional Kantor Pegadaian Wilayah IX Jakarta 2 Tancap Gas Digitalisasi Transaksi Emas Lewat Aplikasi Tring Tragis! Rumah Dijaminkan demi Tolong Orang, YAM Justru Dipenjara Ketika Polri Mau Dipindah ke Kementerian, Alarm Reformasi Ikut Bunyi Kamar 307: Malam Saat Tangan Buntung Keluar dari Kolong Ranjang

Regional

Di Tengah Lumpur dan Gelap, Gubernur Mualem Salurkan 30 Ton Sembako untuk Korban Banjir

badge-check


					Gubernur Aceh Muzakir Manaf meninjau banjir Aceh Tamiang hingga dini hari dan menyalurkan 30 ton bantuan makanan serta obat-obatan untuk warga terdampak.(Istimewa) Perbesar

Gubernur Aceh Muzakir Manaf meninjau banjir Aceh Tamiang hingga dini hari dan menyalurkan 30 ton bantuan makanan serta obat-obatan untuk warga terdampak.(Istimewa)

PRABA INSIGHT- ACEH – Bahu jalan Aceh Tamiang pascabanjir kelihatannya kayak lokasi syuting film kiamat bedanya, ini nggak ada sutradara yang bisa teriak “cut!”. Puluhan kendaraan tergeletak di pinggir jalan, diselimuti lumpur tebal yang kalau diinjak bunyinya plok-plok kayak sandal jepit murahan kena hujan. Lampu jalan? Ah, mereka memilih tidur lebih awal. Kawasan perbatasan Aceh–Sumut gelap total, cuma disinari senter warga dan lampu kendaraan yang masih bertahan hidup.

Di tengah suasana yang membuat HP auto “mode malam”, Gubernur Aceh, Muzakir Manaf alias Mualem, datang nongol hampir tengah malam, Rabu (3/12/2025). Beliau tiba sekitar pukul 23.00 WIB dan bukannya langsung balik karena ngantuk, malah keliling sampai pukul 03.15 WIB. Lembur empat jam lebih, padahal pejabat lain jam segitu biasanya sudah mimpi manis.

Mualem meninjau berbagai titik banjir, termasuk Kampung Dalam di Kecamatan Karang Baru wilayah yang rumah-rumahnya sudah tidak bisa disebut rumah kecuali kalau definisi rumah adalah tembok setengah dan kenangan pahit.

Tapi kunjungannya bukan cuma “cek lokasi, foto, selesai”. Mualem membawa 30 ton bantuan dari warga Medan. Isinya bukan gimmick, tapi kebutuhan nyata: air minum, beras, mi instan, biskuit, telur, dan obat-obatan. Kombo yang bisa bikin para pengungsi merasa, “Ya sudahlah, setidaknya lapar tidak ikut menyerang.”

Bantuan ini juga dibagikan ke warga yang mengungsi di pinggir jalan Banda Aceh–Medan tempat yang tadinya cuma jalur transportasi, kini berubah jadi tenda darurat panjang tak berujung.

Di hadapan warga yang lagi dalam mode bertahan hidup, Mualem menyampaikan duka dan empati. Beliau berharap masyarakat Aceh tetap tabah menghadapi bencana yang datang tanpa pas-pasan, tanpa ba-bi-bu, dan terutama tanpa izin.

Malam itu, Aceh Tamiang memang gelap. Tapi dengan 30 ton bantuan yang berdatangan, setidaknya masih ada alasan buat bilang: “Syukurlah, nggak semuanya hanyut.”


Penulis : Ristanto | Editor : Ivan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Tragis! Rumah Dijaminkan demi Tolong Orang, YAM Justru Dipenjara

6 Februari 2026 - 15:50 WIB

Sebulan Jadi Brimob Palsu: Masuk Mako, Ikut Latihan, dan Pegang Senjata Ketahuan Gara-gara Minta Rokok

5 Februari 2026 - 14:41 WIB

Diduga Mabuk, Tabrak Lari, lalu Nyemplung: Mobil Oknum Polisi di Karawang Berakhir di Sungai

1 Februari 2026 - 07:56 WIB

Soto MBG SMA 2 Kudus Diduga Basi, 118 Siswa Keracunan Dilarikan ke Rumah Sakit

31 Januari 2026 - 11:12 WIB

Camat Medan Maimun Dicopot, Kartu Kredit Daerah Diduga Dipakai Main Judi Online

28 Januari 2026 - 13:48 WIB

Trending di Regional