Menu

Mode Gelap
3 Surpres Meluncur dari Istana ke DPR, Kursi Strategis Mulai Jadi Rebutan? GOR Terpadu Kota Bekasi Rp121 M Diduga Bermasalah, NCW Lapor KPK Ngopi Nggak Harus Serius: MILKLAB Ajak Coffee Lovers Keliling Kafe sambil Joget dan Berburu Hadiah Gusi Berdarah Bisa Berkaitan dengan Penyakit Kronis, dari Diabetes hingga Jantung Rumah Kontrakan Bakal Dipajaki 2027, Pengamat Minta Pemerintah Tak Samakan dengan Properti Komersial Temuan Senjata di YHI-PP Bermula dari Ruangan Terkunci, Kuasa Hukum: Kunci Masih Dipegang IWD

Internasional

Kronologi Tenggelamnya Fregat IRIS Dena: Dari Izin Sandar di India hingga Diduga Ditorpedo di Samudra Hindia

badge-check

Kronologi tenggelamnya fregat Iran IRIS Dena di Samudra Hindia terungkap. Kapal disebut terkena torpedo kapal selam AS setelah Iran meminta izin sandar ke India Perbesar

Kronologi tenggelamnya fregat Iran IRIS Dena di Samudra Hindia terungkap. Kapal disebut terkena torpedo kapal selam AS setelah Iran meminta izin sandar ke India

PRABAINSIGHT.COM – Kalau kamu mengira konflik global selalu dimulai dari pidato panjang para pejabat atau rapat diplomatik yang membosankan, cerita tenggelamnya kapal perang Iran satu ini bisa jadi pengecualian. Sebab rangkaian peristiwanya justru dimulai dari sesuatu yang terlihat biasa: izin kapal perang untuk mampir ke pelabuhan.

Pemerintah India baru-baru ini mengungkap kronologi yang cukup menarik soal tenggelamnya fregat Angkatan Laut Iran, IRIS Dena, di perairan Samudra Hindia.

Menurut Menteri Luar Negeri India, Subrahmanyam Jaishankar, semuanya bermula pada 28 Februari 2026. Saat itu Iran mengajukan permintaan agar tiga kapal militernya diizinkan bersandar di pelabuhan India.

Permintaan itu muncul di saat situasi kawasan sedang tidak baik-baik saja. Ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel sedang meningkat, membuat pergerakan kapal perang di kawasan menjadi perhatian banyak pihak.

India kemudian memberikan lampu hijau pada 1 Maret 2026. Pemerintah menjelaskan bahwa izin tersebut diberikan sebagai kunjungan pelabuhan biasa atau port call, sesuatu yang sebenarnya lazim dalam hubungan maritim internasional.

Selain itu, ada juga pertimbangan kemanusiaan bagi kapal yang beroperasi di wilayah konflik.

Beberapa hari kemudian, tepatnya 4 Maret 2026, salah satu kapal Iran memanfaatkan izin tersebut. Kapal dukungan Angkatan Laut Iran bernama IRIS Lavan berlabuh di pangkalan Angkatan Laut India di Kochi untuk keperluan logistik.

Sampai di titik ini semuanya terlihat normal. Kapal datang, isi logistik, lalu pergi lagi. Rutinitas standar dunia maritim.

Namun pada hari yang sama, situasi berubah drastis.

Fregat Angkatan Laut Iran IRIS Dena dilaporkan tenggelam di kawasan Samudra Hindia dekat Sri Lanka.

Menurut sejumlah laporan internasional, kapal tersebut diduga terkena torpedo yang ditembakkan dari kapal selam milik Amerika Serikat.

Insiden ini langsung menarik perhatian dunia internasional. Pasalnya, IRIS Dena sebelumnya diketahui berada di kawasan itu setelah mengikuti kegiatan angkatan laut multinasional yang diselenggarakan oleh Angkatan Laut India.

Artinya, kapal tersebut berada di wilayah yang secara diplomatik cukup sensitif: jalur pelayaran strategis dengan banyak aktor militer besar mondar-mandir.

Pemerintah India sendiri buru-buru menegaskan satu hal penting. Menurut mereka, izin sandar kapal Iran di pelabuhan India murni keputusan diplomatik yang lazim dalam hubungan internasional.

Dengan kata lain: India tidak sedang ikut-ikutan dalam operasi militer apa pun.

Meski begitu, tenggelamnya IRIS Dena tetap menambah panjang daftar ketegangan geopolitik di kawasan Samudra Hindia.

Di tengah konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel, satu kapal perang yang tenggelam bisa berarti lebih dari sekadar kecelakaan laut.

Ia bisa menjadi potongan kecil dari puzzle konflik yang jauh lebih besar.

Dan seperti biasanya dalam politik internasional: setiap potongan puzzle itu jarang benar-benar sederhana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Iran Belum Buka Selat Hormuz, Ajukan 5 Syarat ke AS: Sanksi hingga Ganti Rugi Perang

10 Agustus 2026 - 09:59

Gianni Infantino Dilaporkan Hadapi Tudingan “Suap” Terkait Rencana Penjualan Saham Piala Dunia FIFA

30 Juli 2026 - 16:12

Spanyol Akui Palestina, Sikap Tegas Pedro Sánchez Picu Ketegangan dengan Israel

20 Juli 2026 - 20:13

Trump Sebut Israel Bisa Tamat dalam Hitungan Jam Jika Iran Punya Nuklir, Ancaman atau Jurus Negosiasi?

18 Juni 2026 - 18:44

Viral! Polisi Florida Tilang Perempuan Tanpa Tangan Kanan karena Diduga Main HP Saat Nyetir

2 Juni 2026 - 12:49

Trending di Internasional