PRABAINSIGHT.COM – SULAWESI – Kalau ada yang bilang pondok pesantren selalu identik dengan ketenangan, barangkali kabar dari Kabupaten Muna Barat, Sulawesi Tenggara ini perlu jadi bahan renungan bersama. Bukan untuk menghakimi lembaga keagamaan, tapi untuk mengingatkan: kepercayaan tanpa kontrol bisa berujung petaka.
Seorang pimpinan pondok pesantren di wilayah tersebut kini dilaporkan ke polisi atas dugaan pelecehan terhadap empat santriwati. Modusnya terdengar klise sekaligus absurd dalih “latihan sebelum menikah”. Kalimat yang, kalau dipikir-pikir, lebih cocok jadi bahan satire daripada alasan yang masuk akal.
Kasus ini pertama kali mencuat lewat laporan korban berinisial SR (22) yang masuk ke Polres Muna sekitar setahun lalu. Sayangnya, alih-alih berlanjut mulus, perkara ini justru seperti ditarik rem tangan. Terlapor malah melaporkan balik korban dengan tuduhan pencemaran nama baik. Di titik ini, keadilan tampak seperti antrean panjang tanpa nomor.
Masalahnya tidak berhenti di situ. Pada 19 Januari 2026, dua santriwati lain ABN (16) dan SM (17) ikut melaporkan dugaan perbuatan serupa. Total, sudah ada empat korban yang menyampaikan laporan resmi dengan pola kejadian yang nyaris sama. Dan ya, dalihnya pun tetap: “pembinaan sebelum menikah”. Entah sejak kapan kekerasan dibungkus dengan kata pembinaan.
Satreskrim Polres Muna menyatakan telah memeriksa para korban sebagai saksi dan melayangkan surat panggilan kepada terlapor. Meski begitu, proses hukum masih berada di tahap penyelidikan.
“Saat ini masih tahap penyelidikan, laporannya sudah masuk terkait dengan dugaan pelecehan,” ujar Kasat Reskrim Polres Muna, Iptu S. Jaya Tarigan, Senin (2/2/2026).
Sementara itu, keluarga korban hanya punya satu harapan yang terdengar sederhana tapi krusial: terlapor segera diperiksa dan ditahan agar tidak muncul korban berikutnya. Karena bagi mereka, ini bukan soal nama baik, tapi soal masa depan anak-anak yang seharusnya aman saat belajar agama.
Kasus ini jadi pengingat pahit bagi para orang tua: menitipkan anak ke lembaga pendidikan termasuk pondok pesantren bukan berarti melepas kewaspadaan. Iman memang penting, tapi akal sehat dan pengawasan tetap wajib jalan bareng.
Editor : Irfan Ardhiyanto











