Menu

Mode Gelap
Ceramah di Kolong Tol, Ustadz Endang: Harta dari Judol dan Pinjol Bisa Jadi Petaka iPhone Rp2 Juta Berujung Parang: Drama Emosi Pembeli di Toko HP Medan yang Viral Ketua Golkar Malra Nus Kei Tewas Ditusuk di Bandara, Salah Satu Pelaku Diduga Atlet MMA Menggugat Sistem Global, Haidar Alwi Dorong Emas Rakyat Jadi Pilar Kedaulatan Ekonomi RI Sekawan Limo 2 Tayang Mei 2026: Dari Reuni Santai Berujung Teror Pesugihan PHI Group Borong 2 Penghargaan di Grand Honors 2026, Ekspansi 27 Hotel dan Bidik Pasar ASEAN

Internasional

Kronologi Revolusi Gen Z Nepal: Demo Medsos Berujung 19 Tewas dan Parlemen Hangus

badge-check


					Istana Singha Durbar, yang merupakan gedung DPR dan pemerintahan Nepal, dibakar dalam demonstrasi di Kathmandu, pada Selasa (09/09) Perbesar

Istana Singha Durbar, yang merupakan gedung DPR dan pemerintahan Nepal, dibakar dalam demonstrasi di Kathmandu, pada Selasa (09/09)

PRABA INSIGHT – NEPAL – Coba bayangkan: suatu pagi Anda bangun, ingin stalking mantan di Facebook, cari hiburan di YouTube, atau sekadar ngetwit receh di X, eh… semuanya “This site can’t be reached”. Itulah yang dialami rakyat Nepal. Pemerintah mereka memutuskan untuk ngeblokir 26 platform media sosial populer karena alasan “belum daftar resmi”.

Dan seperti biasa, kebijakan “ngadi-ngadi” semacam ini jarang berakhir damai. Dalam hitungan jam, jalanan Kathmandu penuh manusia marah, polisi keluar bawa meriam air, hingga akhirnya: parlemen kebakar, menteri dikejar, dan perdana menteri resign.

Dari Regulasi Mulia Jadi Ambyar

Sebenarnya, idenya nggak salah. Mahkamah Agung Nepal tahun lalu sudah bilang: semua medsos wajib daftar resmi dan bikin kantor lokal. Tujuannya? Biar gampang diatur kalau ada penipuan, ujaran kebencian, atau konten ilegal.

Tapi masalahnya, pemerintah memblokir dulu, regulasi beresnya belakangan. Dan yang diblokir bukan platform ecek-ecek. Kita bicara Facebook, Instagram, YouTube, LinkedIn—platform dengan jutaan pengguna di Nepal.

Digital Rights Nepal langsung ngegas: “Ini bukan regulasi, ini pengekangan.” Warganet Nepal? Jangan ditanya. Mereka turun ke jalan, bawa poster, teriak-teriak, sampai ada yang kreatif bawa bendera One Piece. (Entah maksudnya solidaritas bajak laut atau sekadar biar fotonya estetik di TikTok.)

Demo Damai Berubah Jadi Neraka

Awalnya damai, lagu kebangsaan dikumandangkan, orasi berapi-api, lalu suasana mendidih. Sentimen anti-korupsi ikut menyulut. Video anak pejabat pamer tas branded dan liburan ke Eropa makin bikin rakyat panas.

Polisi pun tampil ala Avengers: gas air mata, peluru karet (atau peluru beneran, kata saksi), meriam air, sampai pentungan. Hasilnya: 19 orang tewas, 400 lebih luka-luka.

“Saya ikut demo damai, tapi ditembak pakai peluru logam,” kata seorang mahasiswa, dengan tangan berdarah-darah yang harus dioperasi.

Rumah sakit di Kathmandu pun berubah jadi medan perang kedua, penuh korban luka, sirene meraung sepanjang malam.

Pemerintah Goyang, PM Kabur

Hari Senin malam, Menteri Dalam Negeri mundur. Selasa, giliran Perdana Menteri KP Sharma Oli menyerahkan surat pengunduran diri. Katanya sih demi “solusi politik”. Padahal jelas: pemerintahnya udah rontok kayak mie instan disiram air panas.

Tapi rakyat tidak berhenti di situ. Parlemen dibakar, rumah eks PM Oli ikut dijadikan obor, bahkan Menteri Keuangan Bishnu Prasad Paudel dikejar massa di jalanan Kathmandu. Video viral memperlihatkan si menteri ditendang anak muda sampai jatuh menabrak tembok, lalu lari terbirit-birit.

Kalau nggak ada konteks politik, adegan ini sudah mirip film action komedi.

Nepal, Gen Z, dan Revolusi dari Timeline

Perlu dicatat, hampir separuh populasi Nepal adalah anak muda usia 15–40 tahun. Mereka tumbuh dengan internet, sudah kenyang lihat gerakan mahasiswa di luar negeri, dan jelas-jelas muak dengan korupsi serta elite tua yang sibuk bagi-bagi kursi.

Wali Kota Kathmandu, Balendra Shah—seorang rapper sekaligus insinyur—menulis di Facebook (ironis, ya, medsos yang baru saja diblokir): “Ini murni gerakan Gen Z.”

Singkatnya, yang terjadi di Nepal adalah kombinasi antara hak digital yang dipotong, korupsi yang kelewatan, ekonomi seret, dan generasi muda yang sudah terlalu kenyang janji palsu politisi.

Dari Medsos ke Revolusi

Kalau di negara lain medsos sering dibilang bikin mager, di Nepal medsos justru memicu revolusi. Yang diblokir Facebook, tapi yang terbakar parlemen. Yang mau dikendalikan rakyat, tapi justru pemerintahnya tumbang.

Pertanyaannya: apakah ini awal dari Nepal yang baru, atau sekadar siklus lama—pemimpin jatuh, penguasa baru naik, rakyat tetap gigit jari?

Yang jelas, satu hal kini terbukti: di Nepal, “Login failed” bisa berarti “Revolusi dimulai”. (Van)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Dana Rp263 Triliun untuk Gaza Diduga Dialihkan ke Israel, Nama Donald Trump Disorot

20 April 2026 - 16:41

Pendeta di Irlandia “Salah Doa” untuk Donald Trump, Jemaat Tertawa, Netizen: Ini Bukan Sekadar Kepleset

20 April 2026 - 14:47

Ketegangan Ibadah di Yerusalem: Israel Perketat Akses Minggu Palma, Pemimpin Gereja Protes

16 April 2026 - 20:30

Melania Trump Bantah Keterkaitan dengan Epstein Files, DOJ Buka Dokumen Lama yang Seret Nama Elite Dunia

12 April 2026 - 13:05

Konflik NATO Memanas: Donald Trump Sebut Anggota “Pengecut” Usai Tolak Serang Iran, Emmanuel Macron Balas Seret Isu Pribadi

12 April 2026 - 12:55

Trending di Internasional