Menu

Mode Gelap
Bersih-bersih Seragam: 34 Personel Polri Di-PTDH, Nama Konten Kreator Ikut Terseret Belajar Ngaji atau Jadi Korban? Dugaan Pelecehan di Ponpes Muna Barat yang Bikin Orang Tua Merinding Menikmati Wagyu hingga Daechang di Gahyo Cikarang, Restoran Korea Favorit Pebisnis KAUP Gelar PentaSeni 2026 di Kampus Pancasila, Jadi Momen Perpisahan Kepengurusan Dasco Rakernas Perdana Haidar Alwi Institute di Tengah Dinamika Politik Nasional Kantor Pegadaian Wilayah IX Jakarta 2 Tancap Gas Digitalisasi Transaksi Emas Lewat Aplikasi Tring

Regional

PB XIII Mangkat, dan Kita Kembali Belajar Arti Kata ‘Luhur’ dari Keraton

badge-check


					Raja Surakarta PB XIII Hangabehi wafat di usia 77 tahun. Sosok penjaga tradisi Jawa ini meninggalkan duka mendalam bagi Keraton dan masyarakat Solo yang masih setia menjaga warisan leluhurnya.(Foto:Ist) Perbesar

Raja Surakarta PB XIII Hangabehi wafat di usia 77 tahun. Sosok penjaga tradisi Jawa ini meninggalkan duka mendalam bagi Keraton dan masyarakat Solo yang masih setia menjaga warisan leluhurnya.(Foto:Ist)

PRABA INSIGHT – Solo – Kabar duka datang dari jantung budaya Jawa. Minggu pagi (2/11/2025), suasana di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat berubah sendu. Kanjeng Sinuhun Paku Buwono (PB) XIII Hangabehi, sang raja yang selama ini menjadi simbol kebesaran dan sekaligus kesabaran Keraton, wafat di usia 77 tahun.

Sinuhun PB XIII mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Indriati Solo Baru, Sukoharjo, tepat pukul 07.29 WIB. “Beliau sudah lama sakit, komplikasi dari gula darah dan penyakit lainnya,” tutur Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Eddy Wirabhumi, kerabat dekat Keraton, dengan nada lirih.

Kalau bicara tentang PB XIII, orang Solo tahu betul: beliau bukan sekadar raja di balik tembok tebal Keraton. Ia adalah simbol keuletan budaya Jawa yang mencoba bertahan di tengah gempuran zaman. Di masa di mana tradisi sering dipandang kuno, PB XIII justru menjadikannya napas kehidupan.

Beliau adalah tipe pemimpin yang tidak banyak bicara, tapi setiap geraknya punya makna. Dari ritual adat hingga urusan budaya, PB XIII tetap menjaga tatanan keraton yang bagi sebagian orang mungkin sudah tak lagi “trendi”, tapi bagi masyarakat Solo tetap jadi sumber identitas dan kebanggaan.

Kini, setelah wafatnya PB XIII, Keraton Surakarta kembali memasuki babak baru. Duka, tentu saja. Tapi juga harapan bahwa warisan leluhur yang dijaga dengan sepenuh hati itu tak ikut terkubur bersama Sang Raja.

Selamat jalan, Sinuhun. Semoga damai di keabadian, bersama doa ribuan rakyat yang masih setia menyebut nama panjenengan dengan hormat. (Van)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Tragis! Rumah Dijaminkan demi Tolong Orang, YAM Justru Dipenjara

6 Februari 2026 - 15:50 WIB

Sebulan Jadi Brimob Palsu: Masuk Mako, Ikut Latihan, dan Pegang Senjata Ketahuan Gara-gara Minta Rokok

5 Februari 2026 - 14:41 WIB

Diduga Mabuk, Tabrak Lari, lalu Nyemplung: Mobil Oknum Polisi di Karawang Berakhir di Sungai

1 Februari 2026 - 07:56 WIB

Soto MBG SMA 2 Kudus Diduga Basi, 118 Siswa Keracunan Dilarikan ke Rumah Sakit

31 Januari 2026 - 11:12 WIB

Camat Medan Maimun Dicopot, Kartu Kredit Daerah Diduga Dipakai Main Judi Online

28 Januari 2026 - 13:48 WIB

Trending di Regional