Menu

Mode Gelap
3 Surpres Meluncur dari Istana ke DPR, Kursi Strategis Mulai Jadi Rebutan? GOR Terpadu Kota Bekasi Rp121 M Diduga Bermasalah, NCW Lapor KPK Ngopi Nggak Harus Serius: MILKLAB Ajak Coffee Lovers Keliling Kafe sambil Joget dan Berburu Hadiah Gusi Berdarah Bisa Berkaitan dengan Penyakit Kronis, dari Diabetes hingga Jantung Rumah Kontrakan Bakal Dipajaki 2027, Pengamat Minta Pemerintah Tak Samakan dengan Properti Komersial Temuan Senjata di YHI-PP Bermula dari Ruangan Terkunci, Kuasa Hukum: Kunci Masih Dipegang IWD

Regional

“Meski Dua Kebijakan Dibatalkan, Tuntutan Lengser untuk Bupati Pati Tak Surut”

badge-check

Bupati Pati Jawa Tengah Sudewo (foto: Istimewa) Perbesar

Bupati Pati Jawa Tengah Sudewo (foto: Istimewa)

Kalau politik itu panggung drama, maka Pati sedang menayangkan serialnya sendiri. Pemeran utamanya: Bupati Sudewo. Episode terbaru? Dua kebijakan yang bikin warga naik darah PBB-P2 naik 250 persen dan sekolah lima hari resmi dibatalkan. Tapi plot twist-nya: warga tetap minta Sudewo turun.

Aliansi Masyarakat Pati Bersatu sudah menandai tanggal 13 Agustus 2025 sebagai hari “final season”. Di tanggal itu, ribuan orang akan memenuhi jalan. Ada yang niat protes, ada yang mau berpesta, tapi satu tagline mereka sama: “Sudewo lengser!”

Padahal, sang bupati sudah mencoba damage control. Kenaikan PBB-P2 dibatalkan Kamis (7/8/2025). Sehari kemudian, Jumat (8/8/2025), giliran aturan sekolah lima hari yang dihapus setelah ribuan santri, guru ngaji, dan ulama ramai-ramai menolak.

Sayangnya, bagi banyak warga, ini sudah lewat dari sekadar kebijakan. Ini soal ucapan dan gaya bicara yang dianggap terlalu “nyolot” untuk seorang bupati.

“Kami sepakat 13 Agustus lengserkan Bupati Sudewo. Mau mundur secara kesatria atau dilengserkan rakyat Kabupaten Pati? Merdeka!”Surpriyono alias Botok, Koordinator Aliansi Masyarakat Pati Bersatu.

Ahmad Husein, aktivis aliansi yang lain, bahkan bilang mereka siap menurunkan 50 ribu orang untuk aksi nanti. “Warga Pati sudah terlanjur sakit hati. Pembatalan PBB-P2 itu belum cukup. Sudewo harus mundur.”

Tapi tidak semua kubu datang dengan wajah tegang. Gus Sahal Mahfudz dari Aliansi Santri Pati untuk Demokrasi justru menyebut demo mereka akan dikemas sebagai “pesta rakyat”.

“Kita datang dalam keadaan damai. Jangan sampai ditunggangi setan yang suka kerusakan dan permusuhan.”

Sementara itu, di kubu pendidikan, Ketua PCNU Pati, Yusuf Hasyim, menyambut positif keputusan kembalinya sistem sekolah enam hari mulai 11 Agustus 2025.

“Keputusan ini bukan cuma menjawab aspirasi masyarakat, tapi juga memperkuat sinergi pendidikan formal dan nonformal seperti TPQ dan Madin,” ujarnya.

PCNU bersama LP Ma’arif memang menemukan efek samping sekolah lima hari yang lumayan serius: murid kelelahan, kegiatan TPQ terganggu, dan Sabtu sering dipakai untuk hal-hal yang… yah, kadang lebih banyak rebahannya daripada belajar.

Akhir cerita? Semua mata tertuju ke 13 Agustus. Apakah Pati akan merayakan “pesta rakyat” atau menggelar “sidang rakyat” di jalanan? Yang jelas, dramanya masih panjang, dan ratingnya kemungkinan tinggi.(Den)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

GOR Terpadu Kota Bekasi Rp121 M Diduga Bermasalah, NCW Lapor KPK

10 Agustus 2026 - 14:40

Diduga Provokasi Pedagang Pasar Baru Bekasi, Oknum W Dilaporkan ke Polisi

7 Agustus 2026 - 16:54

Dituduh Pakai Rekening Pribadi, Pengacara MSB Buka Suara Perihal Kasus Perumda Tirta Bhagasasi

5 Agustus 2026 - 17:05

Deni Muhammad Ali Ditunjuk Jadi Ketua Panitia Muaythai Porprov Jabar 2026

3 Agustus 2026 - 21:40

Perumda Tirta Bhagasasi Kena ‘Stroke Berat’, Utang Naik Laba Anjlok

3 Agustus 2026 - 14:52

Trending di News