Menu

Mode Gelap
3 Surpres Meluncur dari Istana ke DPR, Kursi Strategis Mulai Jadi Rebutan? GOR Terpadu Kota Bekasi Rp121 M Diduga Bermasalah, NCW Lapor KPK Ngopi Nggak Harus Serius: MILKLAB Ajak Coffee Lovers Keliling Kafe sambil Joget dan Berburu Hadiah Gusi Berdarah Bisa Berkaitan dengan Penyakit Kronis, dari Diabetes hingga Jantung Rumah Kontrakan Bakal Dipajaki 2027, Pengamat Minta Pemerintah Tak Samakan dengan Properti Komersial Temuan Senjata di YHI-PP Bermula dari Ruangan Terkunci, Kuasa Hukum: Kunci Masih Dipegang IWD

Regional

Diduga Mabuk, Oknum TNI AL Aniaya Guru dan Warga di Pelabuhan Melonguane

badge-check

Aksi dugaan premanisme oknum TNI AL di Pelabuhan Melonguane, Talaud, Sulawesi Utara, menewaskan ketenangan warga. Seorang guru dan lima warga dianiaya, kasus diproses di Pengadilan Militer.(Ist) Perbesar

Aksi dugaan premanisme oknum TNI AL di Pelabuhan Melonguane, Talaud, Sulawesi Utara, menewaskan ketenangan warga. Seorang guru dan lima warga dianiaya, kasus diproses di Pengadilan Militer.(Ist)

PRABAINSIGHT.COM – SULUT – Melonguane, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, biasanya tidur lebih awal. Tapi Kamis malam, 22 Januari 2026, hingga Jumat dini hari, ketenangan itu resmi bubar. Bukan karena badai atau kapal karam, melainkan ulah segelintir oknum berseragam TNI Angkatan Laut yang diduga datang ke pelabuhan bukan untuk berjaga melainkan mabuk dan bikin onar.

Korban pertamanya bukan preman, bukan kriminal, apalagi provokator. Ia seorang guru SMK bernama Berkam Saweduling, yang malam itu cuma ingin memancing. Ya, memancing. Aktivitas paling damai yang bisa dibayangkan di pelabuhan kecil.

Sekitar pukul 21.00 WITA, Berkam sedang menikmati senyap laut Melonguane. Hingga datang sekelompok oknum TNI AL dari Lanal Melonguane dengan suara keras, teriakan tak beraturan, dan aroma yang diduga bukan berasal dari air laut. Ketenangan pun selesai.

Merasa terganggu, Berkam menegur. Sebagai warga negara yang masih percaya kamera ponsel bisa jadi saksi, ia merekam perilaku yang menurutnya tak pantas. Tapi rupanya, kamera lebih menyakitkan daripada teguran.

Tak terima direkam, para oknum tersebut langsung bertindak. Berkam dikeroyok, jatuh, tersungkur. Mata kanannya bengkak dan memerah, punggungnya penuh goresan. Pelajaran malam itu jelas: di Pelabuhan Melonguane, pancingan bisa berujung pemukulan.

Masalahnya belum selesai. Lima warga lain yang datang hanya untuk bertanya “ada apa ini?” justru ikut merasakan bogem mentah. Total korban penganiayaan pun menjadi enam orang, sebagaimana dikonfirmasi Kapolres Kepulauan Talaud, AKBP Arie Sulistyo Nugroho.

Amarah warga meledak bukan semata karena satu malam sial. Seorang sumber menyebut, ulah mabuk dan bikin keributan ini bukan barang baru. Bahkan sudah seperti rutinitas tahunan—atau bulanan.

“Ini sudah yang ke-12 kali mereka mabuk dan bikin ribut. Tiap ada acara, pasti kacau,” ujar seorang warga dengan nada yang sudah kehabisan sabar.

Tak heran, ratusan warga akhirnya turun ke jalan. Mereka berkumpul di depan Patung Tuhan Yesus Melonguane, menggelar aksi protes spontan. Tuntutannya sederhana tapi penting: rasa aman. Terutama dari aparat yang seharusnya menjaga, bukan menakuti.

Danlanal Melonguane, Letkol Laut (P) Yogie Kuswara, merespons cepat situasi yang makin panas. Pihak Lanal menyatakan siap menanggung biaya pengobatan korban dan bertanggung jawab atas dampak kejadian tersebut. Mediasi kekeluargaan telah dilakukan, tapi proses hukum tetap berjalan.

Letkol Yogie memastikan para pelaku akan diproses dan diadili di Pengadilan Militer. Janji yang kini diawasi publik Talaud dengan mata terbuka lebar.

Kasus Melonguane jadi pengingat pahit: seragam negara bukan jimat kebal hukum, apalagi jika dipakai sambil mabuk. Warga berharap, insiden ke-12 ini benar-benar jadi yang terakhir dan Pengadilan Militer tidak menjadikannya sekadar catatan administratif atau teguran basa-basi.

Karena rasa aman, seperti memancing, seharusnya sederhana. Tidak berakhir di rumah sakit.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

GOR Terpadu Kota Bekasi Rp121 M Diduga Bermasalah, NCW Lapor KPK

10 Agustus 2026 - 14:40

Diduga Provokasi Pedagang Pasar Baru Bekasi, Oknum W Dilaporkan ke Polisi

7 Agustus 2026 - 16:54

Dituduh Pakai Rekening Pribadi, Pengacara MSB Buka Suara Perihal Kasus Perumda Tirta Bhagasasi

5 Agustus 2026 - 17:05

Deni Muhammad Ali Ditunjuk Jadi Ketua Panitia Muaythai Porprov Jabar 2026

3 Agustus 2026 - 21:40

Perumda Tirta Bhagasasi Kena ‘Stroke Berat’, Utang Naik Laba Anjlok

3 Agustus 2026 - 14:52

Trending di News