Menu

Mode Gelap
Rudal Balistik Iran Hantam Kantor Perdana Menteri Israel, ini kata PM Netanyahu Blok M Mendadak Mistis: Luna Maya Perkenalkan Film “Santet Dosa di Atas Dosa” In Memoriam Try Sutrisno, Mantan Panglima ABRI dan Wapres RI ke-6 Eks Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad Tewas? Ini Kronologi Serangan Israel Pasca Khamenei Wafat, Iran Segera Tentukan Pemimpin Tertinggi Baru Ini Penjelasan Ducati soal Insiden Pelek Marc Marquez di Race ThaiGP

Regional

“Meski Dua Kebijakan Dibatalkan, Tuntutan Lengser untuk Bupati Pati Tak Surut”

badge-check


					Bupati Pati Jawa Tengah Sudewo (foto: Istimewa) Perbesar

Bupati Pati Jawa Tengah Sudewo (foto: Istimewa)

Kalau politik itu panggung drama, maka Pati sedang menayangkan serialnya sendiri. Pemeran utamanya: Bupati Sudewo. Episode terbaru? Dua kebijakan yang bikin warga naik darah PBB-P2 naik 250 persen dan sekolah lima hari resmi dibatalkan. Tapi plot twist-nya: warga tetap minta Sudewo turun.

Aliansi Masyarakat Pati Bersatu sudah menandai tanggal 13 Agustus 2025 sebagai hari “final season”. Di tanggal itu, ribuan orang akan memenuhi jalan. Ada yang niat protes, ada yang mau berpesta, tapi satu tagline mereka sama: “Sudewo lengser!”

Padahal, sang bupati sudah mencoba damage control. Kenaikan PBB-P2 dibatalkan Kamis (7/8/2025). Sehari kemudian, Jumat (8/8/2025), giliran aturan sekolah lima hari yang dihapus setelah ribuan santri, guru ngaji, dan ulama ramai-ramai menolak.

Sayangnya, bagi banyak warga, ini sudah lewat dari sekadar kebijakan. Ini soal ucapan dan gaya bicara yang dianggap terlalu “nyolot” untuk seorang bupati.

“Kami sepakat 13 Agustus lengserkan Bupati Sudewo. Mau mundur secara kesatria atau dilengserkan rakyat Kabupaten Pati? Merdeka!”Surpriyono alias Botok, Koordinator Aliansi Masyarakat Pati Bersatu.

Ahmad Husein, aktivis aliansi yang lain, bahkan bilang mereka siap menurunkan 50 ribu orang untuk aksi nanti. “Warga Pati sudah terlanjur sakit hati. Pembatalan PBB-P2 itu belum cukup. Sudewo harus mundur.”

Tapi tidak semua kubu datang dengan wajah tegang. Gus Sahal Mahfudz dari Aliansi Santri Pati untuk Demokrasi justru menyebut demo mereka akan dikemas sebagai “pesta rakyat”.

“Kita datang dalam keadaan damai. Jangan sampai ditunggangi setan yang suka kerusakan dan permusuhan.”

Sementara itu, di kubu pendidikan, Ketua PCNU Pati, Yusuf Hasyim, menyambut positif keputusan kembalinya sistem sekolah enam hari mulai 11 Agustus 2025.

“Keputusan ini bukan cuma menjawab aspirasi masyarakat, tapi juga memperkuat sinergi pendidikan formal dan nonformal seperti TPQ dan Madin,” ujarnya.

PCNU bersama LP Ma’arif memang menemukan efek samping sekolah lima hari yang lumayan serius: murid kelelahan, kegiatan TPQ terganggu, dan Sabtu sering dipakai untuk hal-hal yang… yah, kadang lebih banyak rebahannya daripada belajar.

Akhir cerita? Semua mata tertuju ke 13 Agustus. Apakah Pati akan merayakan “pesta rakyat” atau menggelar “sidang rakyat” di jalanan? Yang jelas, dramanya masih panjang, dan ratingnya kemungkinan tinggi.(Den)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Terungkap! Pemprov Kaltim Anggarkan Puluhan Juta untuk Naskah Pidato Gubernur

1 Maret 2026 - 18:18 WIB

Viral! Istri Prajurit di Cenderawasih Diduga Terlibat Selingkuh dengan 13 Anggota TNI AD

27 Februari 2026 - 12:23 WIB

Duar Maut di Situbondo! Ledakan Petasan Hancurkan Rumah, 2 Orang Tewas Termasuk Remaja 15 Tahun

26 Februari 2026 - 14:46 WIB

Warga Keluhkan Trotoar Alun-alun Pandeglang Jadi Area Parkir Polisi

26 Februari 2026 - 11:45 WIB

Ada Belatung di Menu MBG Kupang, Kapolsek: Kami Turun ke Lokasi

25 Februari 2026 - 10:02 WIB

Trending di News